Parjo OB Sekaligus Pemuasku - Rumah 18 +

Breaking

Home Top Ad

 


Post Top Ad

SahabatQQ

Tuesday, December 5, 2023

Parjo OB Sekaligus Pemuasku

Rumah18Plus - Parjo OB Sekaligus Pemuasku. Sebut saja namaku Linda (samaran).

Aku saat ini bekerja

sebagai seorang senior marketing di suatu perusahaan

multinasional yang berkantor di salah satu gedung di

kawasan Jakarta Selatan. Usiaku saat ini 31 tahun. Aku

sudah berkeluarga dengan satu anak yang baru berumur 2

tahun, Rio. Ia sedang lucu-lucunya. Suamiku, sebut saja

Mas Edi, bekerja sebagai seorang junior manager di salah

satu perusahaan swasta di kawasan CBD dekat Semanggi.



Aku dan suamiku saat ini sudah mampu memiliki rumah

sendiri di kawasan Cimanggis. Dengan kesibukan kami

masing-masing, praktis waktu kebersamaan kami hanyalah

dua hari dalam satu minggu, yakni hari Sabtu dan Minggu.

Untuk itu kami memanfaatkan waktu kebersamaan

sebaik-baiknya.


Cerita Dewasa – Bagiku hubungan seks dengan suami tidak mengutamakan

kuantitas. Kualitas jauh lebih penting, karena dengan

kualitas hubungan yang baik maka kenikmatan yang aku

peroleh justru sangat maksimal. Jadi dalam hal hubungan

seks, antara aku dan suamiku tidak ada masalah. Yang

menjadi masalah adalah kadang-kadang aku berfantasi

ingin melakukan hubungan seks dengan orang dari kalangan

lower class!! Aku sering berfantasi dan sangat terobsesi

untuk berhubungan dengan orang yang memiliki gairah

liar. Hal ini disebabkan karena suamiku selalu

memperlakukanku dengan lembut. Itulah masalahnya!!


Aku sering membayangkan bagaimana rasanya berhubungan

badan dengan orang-orang yang kasar. Mungkin ini semacam

fantasi liarku yang terpendam. Ini mungkin timbul dari

keadaanku yang sejak kecil selalu bergaul dengan

perempuan! Soalnya dari keluargaku semuanya terdiri dari

anak perempuan! Dari tiga bersaudara sekandung aku

merupakan anak pertama, kedua adikku perempuan dan sejak

aku berumur 16 tahun ayahku meninggal sehingga praktis

kami berempat termasuk ibuku perempuan semua dalam satu

rumah. Begitu pula saat bekerja, di kantorku jumlah

karyawan terbanyak adalah perempuan! Karyawan laki-laki

hanya beberapa orang termasuk satpam, sopir serta office

boy.


Kata orang penampilanku sangat menarik! Aku tidak

menyombongkan diri memang begitulah kenyataannya.

Kulitku putih bersih. Ukuran tubuhku sangat ideal

menurut pendapatku. Tinggi badanku 165 cm dan berat

badanku 55 kg, dan ukuran dadaku 36B. Dengan keadaan

fisik seperti ini tidak sulit bagiku untuk menaklukkan

lelaki yang kuinginkan.


Di kantorku ada satu orang office boy yang membuatku

tertarik akan kejantanannya. Orang itu namanya Parjo,

berasal dari Tegal, satu kampung denganku. Ia baru

berusia 21 tahun. Orangnya tinggi besar dan wajahnya

lumayan ganteng. Hal yang membuatku kadang terpesona

oleh kejantanannya adalah bau keringatnya yang menyengat

dan asli khas bau lelaki. Aku kerap kali membayangkan

bagaimana bila aku disetubuhi olehnya. Aku sering kali

memimpikan bahwa memekku digenjot oleh batang kontolnya

yang dari luar celananya tampak menggembung menandakan

besarnya isi yang ada didalamnya. Inilah salah satu

fantasi liarku, yaitu disetubuhi oleh orang yang kasar

seperti dia. Aku mudah saja dekat dengannya karena kami

berasal dari satu kabupaten hanya beda kecamatan.


Cerita Dewasa – Sebagai seorang Senior Marketing aku menempati ruang

khusus sebagai kantorku. Pembaca jangan membayangkan

kalau ruang khusus di kantorku ruangnya tertutup sama

sekali. Tidak, ruang kantorku sebenarnya mirip-mirip

aula yang luas! Cuma disekat-sekat dengan partisi. Ruang

khusus yang kumaksudkan adalah dalam satu ruangan yang

disekat partisi dengan luas kira-kira 2,5 x 2 m hanya

diperuntukkan bagiku. Karyawan lain yang tingkatannya

masih di bawahku biasanya menempati satu ruang yang

disekat secara bersama-sama sekitar 3 atau 4 orang dalam

satu ruangan. Dengan demikian aku mempunyai lebih banyak

privacy di kantorku ini.


Aku kerap kali membuka-buka internet terutama saat-saat

istirahat pada jam-jam menjelang kerja lembur. Salah

satu situs yang menjadi favoritku adalah https://cèritasêx17.com

ini. Soalnya dengan membaca kisah-kisahnya fantasiku

bisa melayang sesuai dengan alur cerita yang dibawakan

si penulis! Aku tak peduli kalau itu kisah nyata atau

cuma karangan si penulis.. Yang penting bagiku bisa

memuaskan imajinasiku, titik! Oh ya.. Karena

kesibukanku, aku kerap kali harus bekerja lembur sore

hari hingga sampai jam 20.00 aku baru keluar kantor.

Dalam satu minggu, mungkin aku kerja lembur selama 3

hari. Bagiku lembur lebih baik dibandingkan harus

terkena macet di jalan yang tiap hari selalu menghantui

Jakarta. Yach.. Dari pada waktu terbuang karena macet di

jalanan, mendingan kerja lembur bisa dapat tambahan uang

belanja, iya kan?


Suatu sore, seperti biasanya saat menjelang lembur aku

mulai asyik membuka-buka kisah-kisah erotis di situs

ini. Suasana kantor sudah mulai sepi karena karyawan

sudah mulai meninggalkan tempatnya masing-masing. Hal

ini sudah biasa bagiku dan tidak menjadi sesuatu yang

istimewa sehingga aku cuma menyahut kecil saat satu-demi

satu rekan-rekanku pamitan mau pulang duluan.


Cerita Dewasa – Aku mulai terangsang saat membaca kisah-kisah yang

benar-benar erotis. Ingatanku jadi melayang pada fantasi

liar yang selalu mengobsesiku. Entah karena kebetulan

atau memang nasib sedang mujur.. Ternyata office boy

yang menjadi incaranku saat itu sedang membersihkan

ruang meeting yang besok pagi akan digunakan untuk rapat

evaluasi bulanan. Ruang meeting itu persis berada di

samping ruanganku sehingga saat si Parjo lewat,

keringatnya yang baunya menusuk sempat tercium olehku.

Fantasiku kian menggelora begitu mengendus aroma

keringatnya itu.


Aku segera mencari akal bagaimana caranya agar si Parjo

mendekatiku. Akhirnya aku punya akal untuk menyuruhnya

membersihkan ruanganku yang sengaja kubuat berantakan.

Ini kumaksudkan agar Parjo berada dekat denganku dan aku

bisa terus mengendus keringatnya yang seksi itu.


Dengan patuh akhirnya Parjo datang juga ke ruanganku dan

mulai membereskan tempatku yang memang berantakan. Aku

masih tetap membuka situs ngeres ini sambil menghirup

aroma keringatnya yang semakin menyengat saat ia mulai

bekerja. Aku sempat meliriknya saat ia mencuri-curi

pandang ke arah pahaku yang setengah terbuka. Aku memang

memakai rok pendek sehingga pahaku yang putih jenjang

kelihatan sangat indah dan sangat kontras dengan rok

pendekku yang berwarna gelap. Parjo memalingkan wajahnya

dengan malu saat kutangkap basah mencuri-curi pandang ke

arah pahaku.


Aku tetap pura-pura sibuk melihat monitor sambil membaca

cerita erotis yang tersaji di depanku. Parjo yang sedang

berjongkok membersihkan kolong mejaku tampak berhenti

bergerak. Dengan sudut mataku kulihat ia sedang

memperhatikan kedua pahaku dari kolong mejaku. Kubiarkan

saja hal itu terjadi. Iseng-iseng aku menggodanya agar

ia pusing sendiri melihat keindahan pahaku.


Aku tidak menduga kalau ternyata Parjo seberani itu.

Tiba-tiba aku merasa ada benda hangat menyentuh pahaku

yang setengah terbuka. Aku tercekat mendapati ia senekat

itu, padahal sempat kudengar masih ada suara orang lain

yang sedang bercakap-cakap di ruang sebelah. Ternyata

masih ada dua orang kolegaku yang belum keluar. Mereka

sedang bersiap-siap pulang dan sedang berjalan mendekat

ke ruanganku untuk pamitan. Aku tidak berani berteriak

saat tangan Parjo yang nakal mulai menggerayangi pahaku

dari kolong mejaku. Aku hanya berusaha mengatupkan kedua

pahaku agar tangannya tidak bergerak terlalu jauh. Aku

menggigit bibirku menahan geli saat tangannya yang kasar

mengelus-elus paha bagian dalamku dan tangannya yang

terjepit kedua pahaku berusaha bergerak-gerak ke atas.


“Mbak Linda.. Mau lembur lagi” terdengar suara Ida salah

seorang staf bagian purchasing menyapaku dari luar

ruangan.

“Ehh.. Ii.. Iya habis buat persiapan meeting besok” aku

tergagap menjawab pertanyaannya.


Cerita Dewasa – Aku khawatir kalau-kalau si Ida dan Dewi yang saat itu

belum pulang masuk ke ruanganku dan tahu apa yang

terjadi. Yang kurang ajar lagi, ternyata tangan Parjo

terus memaksa bergerak ke atas hingga aku tak mampu

menahannya lagi. Kini tangannya sudah mulai meraba dan

meremas vaginaku dari luar CD nylonku. Aku yang tadi

sudah terangsang karena bacaan cerita ngeres semakin

terangsang lagi dengan perlakuan Parjo itu.


“Kita pulang duluan ya Mbak.. Sampai ketemu besok! Salam

buat Rio si kecil”.


Suara Dewi sedikit melegakanku, karena kekhawatiranku

kalau mereka akan nyelonong ke ruanganku tidak terjadi.

Mereka berdua langsung keluar ruangan. Kini di kantor

hanya tinggal aku dan Parjo yang saat itu masih sibuk

meremas vaginaku dari luar CD-ku.


Aku yang sudah sangat terangsang tidak dapat menolak

lagi apa yang ia perbuat. Tanpa sadar aku membuka kedua

pahaku agak lebar. Mendapat angin seperti itu, jari

Parjo yang nakal segera menyusup ke dalam CD-ku dan

mulai mengorek-ngorek lubang vaginaku yang sudah mulai

basah. Napasku sudah mulai memburu menahan gejolak yang

mulai mendesak.


Konsentrasiku membaca sudah mulai hilang karena

pandangan mataku mulai kabur menerima rangsangan Parjo.

Kini bukan hanya tangannya yang aktif bergerilya di

selangkanganku yang sedikit terbuka. Lidah Parjo pun

mulai bergerak menjilati kedua pahaku sambil bersimpuh

di depan kursiku. Rok pendekku dipaksanya terbuka hingga

pahaku semakin terbuka.


Lidah Parjo yang panas menggelora mulai bergerak-gerak

liar menyapu seluruh permukaan kulit pahaku yang sangat

sensitif. Tubuhku semakin menggigil menahan geli saat

lidahnya menyusuri kulit pahaku disertai dengan

gigitan-gigitan kecil. Gila, Parjo rupanya tahu kalau

aku sedang membuka cerita ngeres saat ia masuk dan

kusuruh membersihkan ruanganku sehingga ia berani

berbuat kurang ajar padaku. Aku sebetulnya tadi cuma

menggoda saja. Aku tidak menduga kalau akan sejauh ini.


“Jo.. Jang.. anhh” aku mendesis tapi tidak berani

berteriak karena takut kalau ada orang yang mendengar.


Cerita Dewasa – Namun Parjo rupanya sudah kesetanan. Pantatku ditariknya

ke bawah hingga aku terduduk di ujung kursiku. Hal ini

memudahkan Parjo menyingkap rokku dan menarik CD-ku

hingga ke lututku. Tanpa membuang waktu, Parjo

mengangkat kedua pahaku dan mementangkannya di atas

kepalanya. Wajahnya menyuruk ke selangkanganku dan

lidahnya menghunjam ke dalam lubang vaginaku yang sudah

sangat basah. Aku tak mampu bergerak lagi. Tangannya

yang kokoh memegang erat kedua pahaku hingga tak bisa

lagi bergerak. Aku takut memberontak karena aku sudah

duduk di ujung kursi, jadi kalau bergerak dengan keras

aku mungkin bisa jatuh.


Aku hanya pasrah dan menikmati saja apa yang seharusnya

tidak boleh kulakukan. Aku memang terobsesi bercinta

dengan orang kasar seperti dia, namun itu hanya sebatas

fantasi liarku. Aku tidak ingin mengkhianati suamiku.

Desakan birahi semakin menyergapku saat lidah Parjo

menyeruak masuk ke dalam lubang vaginaku dan bergerak

kasar menggesek-gesek menggelitik lubang vaginaku.

Lidahnya yang kasar bergerak liar semakin dalam ke dalam

lubang kemaluanku. Napasnya yang menggemuruh kurasakan

menghembus bibir vaginaku.


Mataku mulai berkunang-kunang menahan gejolak nafsuku

yang kian meledak-ledak. Perutku sudah mulai kejang

karena bibir Parjo mulai menyedot-nyedot itilku yang

sudah sangat membengkak. Aku hampir saja mencapai

orgasme saat tiba-tiba telepon di mejaku berdering.


“Jo.. Stop.. Stopp” Seolah-olah tersadar akan keadaanku,

aku segera berteriak keras menghentikan aktivitas Parjo.


“Ma.. Maaf Bu..” ujarnya.


Mungkin karena takut aku akan berteriak, Parjo segera

berhenti dan langsung keluar ruanganku serta menghilang

ke dalam meeting room. Aku segera membereskan pakaianku

yang acak-acakan dan mengatur napas sebelum mengangkat

telepon.


“Halloo..” sapaku di telepon.

“Mah.. Ini aku Edy! Mau pulang sama-sama enggak?”

terdengar suara suamiku di seberang sana.

“I.. Iya.. Aku tunggu Pah..” akhirnya aku memutuskan

untuk jadi lembur hari itu.


Cerita Dewasa – Aku merasa bersalah dengan suamiku. Untung saja tadi

suamiku menelepon hingga aku tidak berbuat terlalu jauh

dengan si Parjo. Untuk menutupi rasa bersalahku

sekaligus menuntaskan apa yang tadi telah dimulai oleh

Parjo, malam itu aku mengajak suamiku bermain cinta. Aku

melayani suamiku secara total. Kami yang biasanya

bermain cinta sekali, malam itu aku meminta suamiku

menyetubuhiku hingga tiga kali. Gila! Untung saja

suamiku tidak terlalu curiga dengan keganjilan ini. Hari

ini aku selamat dari perbuatan selingkuh.

Waktu berjalan begitu cepat. Tak terasa sudah hampir

satu bulan sejak kejadian waktu aku hampir saja

mengkhianati suamiku dengan kejadian di ruangan

kantorku. Aku pun sudah mulai dapat melupakan kejadian

itu soalnya selama ini aku juga hampir tidak pernah

melihat Parjo. Aku pun tidak berusaha ingin mengetahui

keberadaannya.


Kira-kira satu minggu menjelang bulan puasa kegiatanku

semakin bertambah sibuk. Aku harus banyak mempersiapkan

kegiatan promosi menjelang penjualan untuk hari raya

lebaran nanti. Untuk itu aku banyak melakukan lembur

seperti biasanya.


Aku masih ingat saat itu hari Kamis tanggal 7 Oktober,

aku seperti biasanya lembur di kantor. Saat itu yang ada

di kantor hanyalah aku dan Ida yang juga sedang lembur

menyelesaikan tugasnya. Kira-kira pukul 18.00, Ida

mendatangi ruanganku dan mengajakku pulang bersama-sama,

namun aku yang masih harus menyelesaikan beberapa

laporan memintanya untuk pulang duluan, sehingga praktis

di kantor hanya tinggal aku sendirian. Aku tidak takut

karena sudah terbiasa, lagi pula ada security yang

selalu berjaga-jaga di lobby bawah di lantai satu.


Entah karena ruangan AC yang dingin atau mungkin karena

sejak sore tadi aku belum ke rest room maka aku merasa

ingin sekali buang air kecil. Karena desakan itu aku pun

meninggalkan ruanganku dan pergi ke rest room yang

letaknya di luar ruangan kantor namun masih satu lantai

dengan kantorku. Karena aku yakin sudah tidak ada orang

lain, maka aku melepas CD-ku dan memasukannya ke tasku

sebelum ke rest room. Hal ini kulakukan agar mudah

melepas hajatku nanti. Praktis saat itu aku tanpa

mengenakan CD saat pergi ke rest room. Toh rok pendekku

cukup tebal, jadi kalau pun masih ada orang tidak

bakalan ketahuan, pikirku.


Cerita Dewasa – Keadaan memang sepi di kantor. Saat aku melewati koridor

di samping kantorku pun tidak tampak ada satu orang pun

di sana. Aku lalu masuk ke rest room dan menutup pintu

kemudian langsung menghambur masuk ke salah satu toilet

yang berjajar di sana. Aku merasa lega sekali setelah

hajatku yang sedari tadi merongrongku terlepas sudah.

Kini aku bisa kembali bekerja dengan tenang.


Saat itu aku sedang merapikan pakaianku di depan cermin

di ruangan rest room. Aku terkejut setengah mati saat

aku tersadar bahwa ternyata di rest room sudah ada orang

lain selain diriku. Yang lebih mengejutkan ternyata

orang itu adalah Parjo yang sedari tadi memperhatikan

diriku saat mematut diriku di depan cermin.


Belum sempat hilang rasa terkejutku, Parjo sudah

mendatangi dan langsung memeluk tubuhku. Aku yang

termasuk sudah cukup tinggi untuk ukuran wanita ternyata

masih terlalu kecil bila dibandingkan dengan Parjo.

Mungkin tingginya sekitar 175-an lebih karena ternyata

tinggi tubuhku hanya sebatas hidungnya saja. Selain

tinggi, tubuh Parjo sangat kekar dan tegap hingga aku

tak mampu bergerak saat kedua tangannya yang kokoh

menyergapku.


Didekapnya tubuhku erat-erat dengan kedua lengannya yang

kokoh. Kemudian sambil sedikit menundukkan kepalanya,

bibir Parjo yang tebal mulai menyentuh bibirku. Lidahnya

mulai menerobos bibirku dan mencari-cari lidahku.

Napasnya mendengus-dengus menggebu-gebu. Aku tidak mampu

menghindar karena tubuhku terjepit lengannya yang begitu

kokoh.


“Hmmngghh.. Ughh..”, saat lidah Parjo dapat menemukan

lidahku, ia mulai mengerang dengan suara yang

benar-benar maskulin. Aku yang tadinya berusaha

meronta-ronta, mulai berdesir darahku mendengar erangan

maskulinnya itu.


Aku merasa betapa dekapan Parjo begitu ketat menarik

tubuhku hingga tubuhku dan tubuhnya berhimpitan sangat

ketat. Aku dapat merasakan ada benda yang mengganjal di

perutku dari balik celana Parjo. Tangan Parjo yang

mendekapku mulai bergerak nakal. Satu tangannya mulai

meremas buah pantatku dari luar rok ketatku sedangkan

tangan satunya sangat ketat mendekap punggungku.


Cerita Dewasa – Aku mulai terangsang saat lidah Parjo yang bergerak liar

di dalam mulutku mulai mendorong-dorong lidahku dan

tangannya yang tadinya meremas-remas buah pantatku mulai

menyingkap rokku ke atas. Rokku ditariknya ke atas

hingga pantatku yang tidak tertutup CD segera tersentuh

langsung oleh telapak tangannya yang kasar. Aku

menggerinjal karena tangannya yang kasar terasa geli di

pantatku yang halus.


“Hhsshh.. Oughh..” tanpa sadar aku sedikit melenguh

karena tangan kasar Parjo meremas buah pantatku yang

terbuka dengan gemasnya. Napasku mulai memburu dan

gairahku mulai terusik. Apalagi bau keringat Parjo yang

menusuk sangat maskulin dalam penciumanku.


“Ja.. Jangan.. Joo.. Ohh.. Sshh” antara sadar dan tidak

aku masih sempat meronta dan mulutku masih mencoba

mencegah perbuatan Parjo lebih jauh. Namun seolah tak

peduli dengan desisanku atau mungkin karena penolakanku

tidak begitu sungguh-sungguh, Parjo tetap saja

merangsekku dengan serbuan-serbuan erotisnya.


Lidah Parjo terus saja menjilat-jilat mulutku dan turun

ke daguku. Aku semakin gelisah menerima rangsangan ini,

apalagi tangan Parjo yang tadinya meremas-remasa

pantatku kini bergeser ke depan dan mulai mengelus-elus

daerah perut di bagian bawah pusarku. Tubuhku

bergoyang-goyang kegelian menahan serbuan tangan nakal

Parjo yang sudah mulai merambah daerah selangkanganku.


“Joo.. Jang.. Jangannhh.. Ohh..” aku semakin mendesis

antara menolak dan tidak.


Tangan Parjo yang nakal semakin liar mengaduk-aduk

daerah sensitifku. Mulutnya kian gencar menyedot-nyedot

leherku. Seolah tak peduli dengan rengekanku, Parjo

terus saja bergerak. Kini tangannya bahkan mulai

meremas-remas labia mayoraku yang sudah mulai basah

berlendir.


Tubuhku tersentak saat jari tangan Parjo mulai menyusup

ke dalam labia mayoraku dan mulai mengorek-korek

tonjolan kelentitku. Digerakannya jarinya berputar-putar

menggesek kelentitku. Kakiku seolah sudah tak bertenaga

hingga tubuhku sudah tersandar sepenuhnya di pelukan

Parjo. Sambil terus memutar-mutar jarinya di tonjolan

kelentitku, Parjo mulai mendorong tubuhku dan diangkat

untuk didudukkan di atas toilet rest room yang dingin

itu. Aku yang sudah mulai pasrah hanya diam saja atas

perlakuannya.


Parjo lalu melepaskan jarinya dari selangkanganku dan ia

mulai berjongkok di hadapanku. Wajahnya berada dekat

sekali dengan selangkanganku yang terbuka lebar.


“Aw.. Ohh..” tubuhku kembali tersentak saat tiba-tiba

Parjo menyurukkan wajahnya ke selangkanganku dan

mulutnya menyedot-nyedot bibir kemaluanku.


Lidahnya yang panas menerobos masuk di antara labia

mayoraku dan mengais-ngais daging hangat lubang

vaginaku. Tanpa sadar aku meremas rambut Parjo yang

jabrik itu. Tanpa bicara, Parjo terus bekerja! Ya

sedikit bicara banyak bekerja!! Ini benar-benar tepat

untuk keadaan Parjo saat itu. Lidahnya kini mulai

mempermainkan kelentitku yang sudah semakin mengembang.

Perutku mulai kejang karena menahan kenikmatan yang

hampir meledak.


“Shh.. Ouhh.. Shh.. Ter.. Rushh Jo..” bibirku tak

henti-hentinya berdecap menahan kenikmatan yang mulai

naik ke ubun-ubunku.


Aku yang tadinya berkata jangan, sekarang meminta Parjo

untuk terus! Tanganku tanpa sadar merengkuh kepala Parjo

agar semakin ketat menempel ke selangkanganku. Rupanya

Parjo tahu kalau aku sudah hampir mencapai orgasme.

Lidahnya semakin gila mempermainkan kelentitku. Bibirnya

menyedot seluruh cairan yang semakin membuat vaginaku

basah. Aku hampir saja mencapai klimaks saat tiba-tiba

Parjo menarik kepalanya dari selangkanganku. Aku hampir

saja terjatuh dari dudukku karena pantatku tanpa sadar

bergerak maju mengejar wajah Parjo yang ditariknya.


Parjo benar-benar mempermainkan aku. Saat aku sudah

menjelang orgasme, tiba-tiba ia menghentikan

pekerjaannya yang belum tuntas. Napasku sudah

ngos-ngosan karena didera nafsu. Parjo yang sudah

berdiri di depanku mulai melepas gespernya dan

memerosotkan celana sekaligus CD-nya hingga ke lututnya.

Aku benar-benar terkejut melihat kontol Parjo yang luar

biasa. Besar dan panjang.. Luar biasa. Aku ngeri

melihatnya. Jangan-jangan vaginaku bisa jebol dibuatnya.

Benar-benar sesuai dengan ukuran tubuhnya yang perkasa.


Kontol Parjo yang perkasa berdiri tegak mengacung ke

arah wajahku yang terpaku melihatnya. Tanpa memberi

kesempatan padaku untuk berlama-lama melihat kontolnya

yang perkasa, Parjo segera menarik tubuhku dan

membaliknya. Kini aku berdiri menghadap cermin. Kedua

tanganku bertumpu di atas toilet yang tadi kududuki.

Tangan Parjo yang kekar mendorong punggungku sedikit

membungkuk hingga pantatku agak menungging. Lalu kedua

kakiku digesernya agar lebih membuka.


Bulu-bulu di tubuhku mulai merinding saat ada benda

hangat dan tumpul mulai bergesek-gesek di bibir

kemaluanku mencoba masuk. Lubang vaginaku yang sudah

licin sangat membantu penetrasi yang dilakukan Parjo

dari arah belakang.


“Oghh..” kudengar Parjo menahan napas saat ujung

kontolnya yang seperti topi baja mulai terjepit labia

mayoraku. Aku pun tak mampu bernapas karena benda itu

terasa sesak sekali mengganjal selangkanganku.

“Hkk.. Hh.. Shh.. Ouchh” aku mendesis tercekat.


Parjo agak kesulitan mendorong kontolnya masuk ke dalam

lubang vaginaku yang agak kesempitan menerima

serbuannya. Aku sendiri heran, aku yang sudah pernah

melahirkan terasa seperti perawan saja saat ditembus

batang kontolnya. Terus terang ukurannya jauh lebih

besar dibandingkan dengan milik suamiku. Aku menjadi

lupa diri saat itu. Yang kutahu aku harus menuntaskan

gairah napsuku.


Berkali-kali Parjo terus mendorong batang kontolnya.

Tanpa sadar aku ikut membantunya dengan menggeser

pantatku hingga kontol Parjo terdorong masuk. Tubuhku

bergetar karena seluruh lubang vaginaku seperti tergesek

oleh besarnya kontol Parjo yang baru masuk kira-kira

setengahnya saja.


“Ouchh.. Hhahh..” aku berkali-kali pula mendesis menahan

nikmat yang kembali naik ke kepalaku.


Cerita Dewasa – Dengan pelan Parjo kembali menarik batang kontolnya dari

jepitan lubang vaginaku. Didorongnya lagi hingga

bertambah dalam batang itu menerobos masuk ke dalam

lubang vaginaku yang sudah mulai bisa beradaptasi dengan

besarnya kontol Parjo. Sekarang gerakan maju mundur

batang kontol Parjo mulai lancar.


“Hugghh..” kami sama-sama menahan napas saat kurasakan

seluruh batang kontol Parjo sudah masuk ke dalam jepitan

lubang vaginaku hingga ke pangkalnya. Itu aku rasakan

karena pantatku menempel ketat pada kantung biji telur

kemaluan Parjo. Lubang vaginaku terasa berdenyut-denyut

meremas batang kontol Parjo yang memenuhi lubang

vaginaku. Panjang sekali batang kontolnya hingga mulut

rahimku seolah-olah seperti tersodok benda tumpul. Tubuh

kami terdiam seperti terpatok satu sama lain oleh pasak

yang menyumpal lubang kemaluanku.


Tangan Parjo yang tadinya memegang kedua sisi pinggulku

mulai menyusup ke dalam gaunku dan bergerak meremas

kedua payudaraku. Tangannya yang kasar membuat tubuhku

menggelinjang saat meremas payudaraku yang sudah

terlepas dari BH-ku. Kait BH-ku memang ada di depan

hingga mudah bagi Parjo melepas penjepitnya.


Mataku terpejam menahan desakan napsu yang mulai

mendesak dari perutku. Dengan pelan Parjo mulai menarik

batang kontolnya dari jepitan lubang vaginaku lalu

mendorongnya kembali. Tubuhku mulai bergetar saat batang

kontolnya menggesek-gesek seluruh dinding vaginaku.

Sambil berpegangan pada kedua payudaraku, Parjo terus

mendorong dan menarik pantatnya. Gerakan batang kontol

Parjo dalam lubang kemaluanku semakin lancar karena

sudah banyak sekali cairan pelicin keluar dari lubang

kemaluanku. Mulut Parjo yang tak henti-hentinya

menjilati kudukku terasa semakin membuatku melayang ke

awan tak bertepi.


Tangan Parjo yang tadinya meremas payudaraku dilepasnya

dan menarik wajahku agar menengok ke belakang. Bibirku

langsung dipagutnya dengan bibirnya yang tebal begitu

wajahku menoleh. Lidah Parjo segera didorong masuk ke

dalam mulutku dan mulai menggelitik rongga mulutku. Aku

jadi ingat saat membaca majalah porno yang dibawa

suamiku dulu. Ini rupanya yang disebut posisi 99. Baru

kali ini aku merasakannya.


Posisi 99 dilakukan dengan kedua pasangan menghadap ke

arah yang sama, laki-laki di belakang dan perempuan di

depan. Penis laki-laki menusuk vagina atau anus si

perempuan dari arah belakang, sementara tangan si lelaki

meremas-remas payudara si perempuan dan keduanya saling

berpagutan bibir. Indah sekali!!


Aku tidak pernah membayangkan kalau akhirnya aku

melakukan hubungan seks dengan posisi seperti ini.

Tangan Parjo kembali menyusup ke dalam gaun kerjaku dan

mulai mengerjakan tugasnya meremas-remas kedua

payudaraku. Bibirnya memagut bibirku dengan lidahnya

mendorong-dorong lidahku. Sementara batang kontolnya

terus menghunjam lubang vaginaku tanpa ampun.

Berkali-kali rambut kemaluan Parjo yang kasar seperti

habis dicukur menggaruk-garuk pantatku saat kontolnya

melesak ke dalam lubang vaginaku hingga ke pangkalnya.

Aku pun berkali-kali mengerang tanpa rasa malu-malu

lagi. Aku memang selalu ribut kalau sedang bersenggama.


Tanpa harus diperintah, aku mulai menggoyangkan pantatku

mengikuti irama tusukan kontol Parjo. Tubuhku mulai

terhentak-hentak dan gerakan pantatku sudah tidak

terkendali. Pantatku semakin cepat bergoyang dan mundur

menyambut dorongan kontol Parjo hingga masuk

sedalam-dalamnya ke dalam jepitan lubang vaginaku.


“Ter.. Rushh.. Joo.. Oohh” aku terus mendesis-desis tak

terkendali. Tubuhku seolah melayang dan ringan. Parjo

semakin cepat menarik dan mendorong kontolnya menghunjam

lubang vaginaku. Aku tersentak. Perutku terasa kejang

menahan desakan yang hampir meledak.


“Terushh Linn.. Terushh..” kudengar Parjo menggeram

sambil menusuk-nusuk lubang vaginaku kian kencang. Lalu

mulutnya kembali melumat bibirku dan tanpa dapat kutahan

lagi tubuhku berkelojotan melepaskan ledakan birahi yang

sudah tidak terbendung lagi. Aku menggigit bibir Parjo

yang melumat bibirku. Pada saat yang sama, tubuh Parjo

pun menggeliat dan tersentak-sentak seperti penari

breakdance. Tubuh bagian bawah kami yang saling menempel

menggeliat secara bersamaan. Pantatku yang menempel

ketat dan seperti terpaku pada tulang kemaluan Parjo

memutar tak terkendali.


“Arghh.. Shh..” seperti suar koor, kami berdua menggeram

secara bersamaan.


Otot-otot vaginaku berdenyut-denyut mencengkeram kontol

Parjo yang tertanam sepenuhnya didalamnya. Cratt..

Cratt.. Cratt.. Crat.. Crat.. Akhirnya kontol Parjo

mengedut-ngedut dan hampir lima kali menyemburkan cairan

hangat yang menyiram ke dalam mulut rahimku. Terasa

begitu kencang semburan air mani Parjo menyemprot dalam

lubang vaginaku. Kami terus bergerak hingga tuntas sudah

air mani Parjo terperas denyutan lubang vaginaku.


Akhirnya kami sama-sama terdiam lemas tak berdaya. Napas

kami saling memburu. Denyut jantungku berdentum setelah

bekerja keras memburu kenikmatan. Aku yang kelelahan tak

mampu bergerak lagi dan ambruk di atas toilet. Kubiarkan

saja kontol Parjo yang masih menancap erat dalam lubang

vaginaku. Tubuh Parjo pun ambruk menindihku. Pantatku

tetap menempel ketat pada tulang kemaluannya. Aku

merasakan betapa banyak cairan air mani yang

disemprotkan Parjo ke dalam lubang vaginaku hingga

sebagian meleleh ke pahaku.


Perlahan-lahan kontol Parjo mulai melembek dan akhirnya

terlepas dari jepitan lubang vaginaku dengan sendirinya.

Beberapa saat kemudian Parjo bangkit dan masuk ke WC.

Kudengar suara gemericik air, mungkin ia sedang

membersihkan kontolnya yang lengket oleh cairan kami

berdua. Ia juga mengambil tissue dari WC dan kemudian

membersihkan lelehan air maninya yang membasahi pahaku

dengan telaten. Beberapa kali ia mondar-mandir ke WC

mengambil tissue dan membersihkan semua cairan dari

selangkanganku. Geli sekali rasanya saat tangannya yang

kasar dengan nakal meremas-remas vaginaku saat

membersihkan dengan tissue.


“Terima kasih Lin.. Sorry aku sudah tidak tahan ingin

menikmati keindahan tubuhmu” ia tidak lagi memanggilku

dengan ibu tapi langsung namaku begitu saja. Aku hanya

terdiam. Aku sebenarnya menyesal juga telah melakukan

pengkhianatan pada suamiku. Tapi semua sudah telanjur.

Aku hanya mengangguk saja saat ia meminta maaf untuk

yang kedua kalinya.


Cerita Dewasa – Aku merapikan pakaianku dan kembali ke ruanganku dengan

langkah gontai akibat kelelahan setelah bersetubuh

sambil berdiri tadi. Parjo pun segera membersihkan

lantai dari lelehan air maninya yang tercecer di rest

room itu.


Jarum jam sudah menunjukkan pukul 19.30 malam saat aku

masuk ruanganku. Jadi hampir satu jam aku bersetubuh

dengan Parjo di rest room tadi. Aku masih sangat lelah

hingga tak mampu lagi berkonsentrasi dengan pekerjaanku.

Aku hanya terpaku di depan mejaku menatap layar monitor

yang tetap menyala.


Aku tersentak dari lamunanku saat HP-ku berdering.

Kulihat di layar ternyata suamiku menelpon.


“Hallo mah.. Kemana saja kamu? Dari tadi kutelepon kok

tidak diangkat?” terdengar suara suamiku di seberang

sana.

“Oh.. Eh.. Anu.. Tadi aku ke toilet.. Habis perutku

rasanya mulas setelah makan siang” jawabku mencari

alasan yang tepat.

“Tapi.. Kamu enggak apa-apa kan?” terdengar suara Mas

Edy agak khawatir

“Enggak apa-apa kok pah..” jawabku.

“Ya sudah kalau enggak apa-apa.. Mau pulang bareng

enggak?” kata suamiku lagi.

“Enggak ah.. Aku masih mau lembur soalnya laporan musti

selesai malam ini juga” aku yang memang berniat mau

meneruskan pekerjaanku meminta suamiku tidak usah

menjemputku.


Aku kembali menatap monitor yang menyala di depanku.

Pikiranku belum bisa diajak berkonsentrasi. Aku sangat

merasa bersalah telah mengkhianati suamiku yang begitu

mencintaiku. Di sisi lain aku merasa ada rasa aneh saat

mengingat kejadian tadi. Pikiranku masih melayang ke

tempat lain saat ada tangan kuat memelukku dari

belakang. Aku kembali tersadar dari lamunanku.


“Eh.. Su.. Sudah Jo.. Jangan lagi” aku berusaha berontak

setelah aku tahu bahwa pemilik tangan kekar itu ternyata

Parjo yang memelukku dari belakang.

“Enggak apa-apa Lin.. Aku sayang sama kamu..” bisik

Parjo sambil memelukku. Aku tak mampu melawan Parjo yang

sudah mulai bernafsu lagi. Apalagi tubuhku masih terasa

lemas sekali sejak digoyang Parjo di rest room tadi.


Napas Parjo yang memburu terasa panas menghembus di

leherku saat lidahnya mulai menjalar menjilati kudukku.

Aku masih berusaha menghindar saat bibirnya berusaha

mencium pipiku. Tetapi tangan Parjo yang kokoh segera

memaksa wajahku menghadapnya dan bibirnya yang tebal

segera melumat bibirku. Aku hanya mampu menutup bibirku

erat-erat sebagai upaya penolakanku. Namun lidah Parjo

tak putus asa berusaha menggesek bibirku dan

menyusupkannya ke dalam mulutku. Akhirnya pertahananku

bobol juga. Lidah Parjo berhasil menyusup ke dalam

mulutku dan mulai mendorong-dorong lidahku. Tangannya

yang kokoh mulai meremas-remas payudaraku dari luar

gaun.


Mendapat rangsangan seperti itu, perlahan-lahan gairahku

mulai bangkit lagi. Lidahku akhirnya membalas dorongan

lidahnya hingga kami saling berpagutan. Sambil tetap

menciumi lidahku, Parjo mengangkat tubuhku dan

memondongku dibawa ke ruang meeting VIP yang khusus

dipakai menjamu tamu VIP. Ruangan itu cukup luas dan

dilengkapi dengan sofa yang empuk.


Tubuhku segera dihempaskan ke sofa itu dan kembali Parjo

mencumbuku dengan ganasnya. Dengan sikap posesif, Parjo

terus mencumbuku di ruang meeting VIP itu. Seluruh

tubuhku mulai bergelora dan tergelitik. Tangan Parjo

yang terampil mulai melepaskan kancing gaunku satu

persatu. Sekarang aku hanya mengenakan rok ketat dan BH.

Kembali Parjo menggumuliku di sofa empuk itu. Lidahnya

yang tadinya menggelitik lidahku mulai bergeser turun ke

leherku, sementara itu tangannya segera melepaskan

pengait BH-ku dan melepaskan BH tersebut hingga tubuh

bagian atasku sudah tanpa penutup lagi.


Lidah Parjo terus bergeser turun dari leher ke bahuku

yang terbuka lebar. Tangan Parjo secara otomatis

bergerak ke dadaku yang sudah terbuka dan bermain-main

di sana. Kedua payudaraku terasa agak sakit karena Parjo

meremasnya dengan kasar dan gemas.


“Ohh..” tanpa sadar aku menggumam saat kedua puting

payudaraku yang didekatkan satu sama lain dilumat mulut

Parjo dengan rakus secara bersamaan. Lidahnya yang kasar

dan panas mempermainkan kedua puting payudaraku. Tubuhku

terasa bergetar menahan gairah.


Cerita Dewasa – Aku tak henti-hentinya mendesis menahan geli dan nikmat

saat mulut Parjo melumat payudaraku dengan gemasnya.

Tangan Parjo lalu melepaskan satu-satunya penutup

tubuhku. Rokku dilepasnya hingga aku betul-betul

telanjang bulat. Aku baru kali ini telanjang bulat di

kantorku sendiri. Aku berbaring telentang di sofa sambil

tanganku berusaha menutupi selangkanganku karena jengah.

Mata Parjo tak pernah lepas dari tubuhku ketika ia

membuka pakaiannya satu demi satu.


Aku menahan napas melihat Parjo yang sudah telanjang

bulat di depanku. Perutnya datar dan keras. Tungkai dan

lengannya yang kokoh sangat lebat ditumbuhi rambut.

Tubuhnya tegap berotot, urat-urat darah yang kuat

terlihat jelas di lengannya. Parjo lalu duduk di dekat

tubuh telanjangku.


“Tubuhmu seksi sekali Lin..” bisik Parjo di telingaku.


Tangannya segera bergerak mengelus dadaku. Ibu jarinya

melakukan gerakan melingkar di atas payudaraku hingga

membuatku menggelinjang kegelian. Tangannya lalu meraba

perutku dan terus bergeser turun dan menyingkirkan

tanganku yang menutupi selangkangan. Ditangkupkannya

telapak tangannya di bukit vaginaku dan ditekankannya

tangannya di sana sambil meremas pelan.


“Ohh..” aku hanya mendesis menahan gairah.


Parjo lalu menundukkan wajahnya dan merangkak di atasku

dengan posisi terbalik. Mulutnya segera menyerbu

payudaraku. Lidahnya menyapu-nyapu seluruh permukaan

kulit payudaraku dan menyedot putingku dengan gemasnya.

Tanpa sadar tanganku bergerak meremas-remas rambut

kepalanya. Parjo pun semakin bersemangat begitu mendapat

respons dariku.


Lidahnya terus merayap turun hingga ke perutku. Kini

wajahku menghadap dadanya yang bidang. Mulutku yang

menempel ketat di dadanya secara otomatis mulai

merespons. Keringat Parjo yang berbau menyengat menjadi

obsesiku. Aku tak menyia-nyiakan untuk merasakan

keringatnya. Lidahku tanpa malu-malu lagi mulai

menjilati puting dada Parjo yang hitam kecoklatan.


Lidah Parjo terus turun ke selangkanganku. Otomatis

wajahku kini menghadap ke arah selangkangannya yang

merangkak di atasku dengan posisi terbalik. Batang

kontolnya yang berukuran super menggantung

bergoyang-goyang di depan mulutku seperti terong. Karena

ujungnya menyentuh-nyentuh mulutku, aku terusik untuk

membuka mulutku dan mulai menjilati ujung topi bajanya.


“Ouchh.. Jo..” tubuhku tersentak saat lidah Parjo mulai

menjilati vaginaku dan lidahnya menyeruak ke dalam

lubang vaginaku menjilati dinding-dindingnya. Pantatku

terangkat secara otomatis.

“Arghh..” Parjo pun melenguh saat mulutku

menyedot-nyedot ujung kepala kontolnya yang sudah sangat

keras.


Setelah puas saling menjilat dan mencumbu, Parjo

membalikkan tubuhnya menghadap ke arahku. Tangan Parjo

segera menguakkan kedua pahaku lebar-lebar. Ia

menempatkan tubuhnya di antara kedua pahaku dan mulai

menyatukan tubuhnya ke tubuhku. Kulit Parjo yang sudah

licin oleh keringatnya yang berbau menyengat tampak

mengkilap. Titik-titik keringat bermunculan di kening

dan lehernya. Parjo menghunjamkan tubuhnya dalam-dalam

berulang kali ke dalam hingga kedua tulang kemaluan kami

saling melekat satu sama lain.


Mulut Parjo segera melumat bibirku yang setengah terbuka

karena merasa sesak napas saat selangkanganku terganjal

kontol Parjo yang melesak ke dalam lubang vaginaku

hingga ke pangkalnya. Dalam sekali rasanya hingga mulut

rahimku terasa agak ngilu tersodok ujung kontolnya.


Cerita Dewasa – Aku yang sudah sangat terangsang berusaha ikut bergerak

mengimbangi tusukan-tusukan Parjo di selangkanganku

dengan menggerakkan pantatku yang tercengkeram oleh

kedua tangannya. Parjo terus mengayunkan pantatnya

naik-turun di atas perutku dengan seluruh berat tubuhnya

tertumpu di atas perutku. Dadanya yang bidang ketat

menghimpit kedua payudaraku. Napasku terasa sesak sulit

bernapas karena tertindih berat tubuhnya. Apalagi mulut

Parjo yang masuk melumat bibirku berusaha

menyedot-nyedot lidahku.


Aku bisa bernapas lega saat Parjo melepaskan kontolnya

dari jepitan lubang vaginaku dan bangun. Ia duduk di

tepi sofa dan mengangkat tubuhku agar duduk di

pangkuannya. Tubuhku kembali direngkuhnya dan bibirku

kembali dipagutnya dengan rakus. Aku yang duduk di atas

pangkuan Parjo dengan mengangkangkan kaki di antara

kedua pahanya tidak dapat bergerak karena kedua

tangannya melingkar erat di punggungku dan menariknya

ketat hingga payudaraku kembali tergencet dadanya yang

bidang itu.


Kontol Parjo yang berukuran super itu tergencet di

antara perutku dan perutnya sendiri. Lalu kedua tangan

Parjo bergeser ke pantatku dan mengangkatnya hingga aku

setengah berdiri menghadap ke arahnya. Kemudian satu

tangannya mengarahkan ujung kepala kontolnya dan

diarahkan ke selangkanganku. Tubuhku diturunkannya

dengan pelan hingga sedikit demi sedikit ujung kontolnya

mulai terbenam kembali ke dalam lubang vaginaku.


Aku menahan napas saat batang kontol Parjo mulai

terjepit dinding lubang vaginaku dan melesak ke

dalamnya. Seluruh bulu tubuhku merinding karena batang

kontolnya yang begitu besar serasa menggesek seluruh

celah dinding vaginaku.


“Ahh..” hampir secara bersamaan kami menghela napas lega

saat seluruh batang kontol Parjo akhirnya masuk tertelan

lubang vaginaku. Pantatku terasa geli tertusuk-tusuk

rambut kemaluan Parjo yang agak tajam karena dicukur

cepak. Aku merasa geli karena kantung telur Parjo yang

lunak dan hangat menempel ketat di bawah pantatku.


Dengan dibantu kedua tangannya yang kokoh yang menyangga

kedua buah pantatku, tubuhku bergerak naik turun di atas

pangkuan Parjo. Kontolnya yang terjepit ketat dalam

lubang vaginaku menggesek seluruh relung dinding

vaginaku. Aku harus menggigit bibirku kuat-kuat agar

dapat menahan kenikmatan yang mulai menggerogoti sumsum

tulang belakangku.


Parjo menundukkan wajahnya dan segera menyurukkannya ke

dadaku yang berayun-ayun seiring dengan gerakan tubuhku

yang seperti menari-nari di atas pangkuannya. Kedua

payudaraku dilumatnya dengan bibirnya yang tebal

bergantian. Lidah Parjo yang kasar dan panas

mengilik-ngilik puting payudaraku yang dijepitnya dengan

bibirnya. Aku merasa seperti melayang menerima

rangsangan ganda seperti ini.


“Ohh.. Joo..” tanganku segera merengkuh kepala Parjo dan

menekankannya ke dadaku. Perutku mulai merasa

kejang-kejang. Gerakanku mulai tak terkendali di atas

pangkuan Parjo. Dinding vaginaku terasa mulai

berdenyut-denyut meremas kontol Parjo yang terjepit di

dalamnya. Gerakanku semakin liar dan kepalaku seperti

tersentak ke atas.


“Terrushh Joo.. Oohh” aku menjerit panjang saat ada

sesuatu yang pecah di dalam perutku. Aku sudah tidak

mampu menahan jebolnya gairahku. Pantatku berputar liar

di atas pangkuan Parjo seperti ingin menggesek dan

menggerus kontolnya yang terbenam di dalamnya. Tangan

Parjo membantuku memutar pantatku. Aku melayang dan

terhempas ke tempat kosong.


Cerita Dewasa – Napasku tinggal satu-satu. Lelah sekali rasanya tubuhku.

Aku terkulai lesu di atas pangkuan Parjo. Kedua tanganku

memeluk erat lehernya untuk menuntaskan sisa-sisa

kepuasan yang benar-benar melelahkan. Dinding-dinding

vaginaku mengedut-ngedut selama beberapa saat lalu aku

terdiam dan ambruk di atas pangkuan Parjo.


Parjo memberiku kesempatan untuk mengatur napasku dengan

membiarkan aku terkulai di pangkuannya. Kontolnya yang

masih sangat keras tetap kokoh memaku lubang vaginaku.


“Masih capai Lin..?” bisik Parjo di telingaku.

“He.. Eh..” aku tak berani melihat wajahnya karena malu,

soalnya tadi aku menolak tetapi akhirnya aku berhasil

ditundukkannya. Aku malu sekali padanya.


Perlahan-lahan Parjo mengangkat tubuhku dari

pangkuannya. Serr.. Nikmat sekali saat batang kontolnya

yang tadi menyumbat lubang kemaluanku tertarik keluar

menggesek dinding vaginaku. Aku sempat melirik batang

kontol Parjo yang begitu basah dan licin mengkilat

karena hasil orgasmeku tadi. Aku lalu disuruhnya

merangkak dengan menghadap ke sofa. Parjo berlutut di

belakang tubuhku yang membelakanginya.


Tubuhku menggelinjang saat lidah Parjo mulai menjalari

tulang belakangku. Lidahnya menjelajah seluruh permukaan

kulit punggungku. Bulu romaku dibuat merinding oleh

ulahnya.


“Ughh..” aku melenguh pelan saat mulut Parjo membuat

gigitan ringan di atas pinggulku. Otot-otot perutku

serasa ditarik karena rangsangan itu. Mulut Parjo tidak

berhenti di situ. Mulutnya terus bergeser turun hingga

kini kedua buah pantatku digigit-gigitnya dengan gemas.

Seluruh tubuhku bergetar menerima perlakuannya. Apalagi

saat lidah Parjo mulai menyapu-nyapu daerah sekitar

lubang anusku.


“Ja.. Jangan Jo..” namun terlambat. Aku tidak mampu

mencegah saat lidah Parjo mulai menusuk-nusuk dan

mengilik-ngilik lubang anusku. Geli sekali rasanya.

Pantatku tidak dapat bergerak karena dicengkeram kedua

tangannya yang kokoh. Aku hanya bisa pasrah dan

menikmati jilatan lidahnya di lubang anusku.


Setelah puas menikmati lubang anusku dengan lidahnya,

Parjo mulai mengarahkan kontolnya ke lubang vaginaku. Ia

menusuk vaginaku dengan kontolnya di antara kedua buah

pantatku. Aku harus menahan napas lagi saat kepala

kontolnya mulai menerobos lubang vaginaku. Agak perih

dan ngilu rasanya.


Lubang vaginaku mulai mengeluarkan cairan pelicin lagi

saat Parjo mengocoknya dengan ujung kepala kontolnya

yang digesek-gesekkan di antara bibir vaginaku. Hal ini

membuat tusukannya bertambah lancar.


“Ughh.. Hkkhh” Parjo menggumam saat seluruh kontolnya

berhasil masuk ke dalam lubang vaginaku. Aku pun dapat

bernapas lega setelah seluruh batang kontolnya melesak

masuk. Ia terdiam beberapa saat menikmati denyutan

dinding vaginaku yang melumat kontolnya.


Nafsuku kembali bangkit saat Parjo berkali-kali

memaju-mundurkan pantatnya menarik dan mendorong

kontolnya di dalam lubang vaginaku. Aku kembali tergerak

menikmati tusukan-tusukannya dengan ikut menggerakkan

pantatku. Pantatku maju mundur berlawanan arah mengikuti

irama tusukannya. Jika ia menarik mundur aku maju dan

jika ia maju aku mendorong pantatku ke belakang

menyongsong tusukannya. Plok.. Plok.. Plokk.., begitulah

setiap kali pantatku beradu dengan tulang kemaluannya

selalu terdengar suara seperti tepukan. Kedua payudaraku

berguncang-guncang setiap kali vaginaku disodok kontol

Parjo.


Darahku mulai menggelegak terbakar nafsu. Tangan Parjo

yang tadinya mencengkeram kedua buah pantatku sekarang

berpindah dan meremas kedua payudaraku yang

berguncang-guncang. Jari-jarinya memilin kedua puting

payudaraku.


“Ohh.. Joo.. Ter.. Russhh.. Terushh” tanpa malu-malu

lagi aku mendesis meminta Parjo terus memompakan

kontolnya. Pantatku yang tadinya maju-mundur kini

bergerak memutar seolah hendak memeras. Dinding vaginaku

kembali berdenyut-denyut. Aku memejamkan mataku berusaha

menahan ledakan yang sudah hampir sampai. Aku berusaha

menahan lebih lama lagi. Kelentitku yang sudah

mengembang tergesek-gesek oleh tusukan kontol Parjo yang

perkasa.


“Ohh.. Joo.. Arghh..” aku mengerang panjang. Aku sudah

tidak mampu bertahan lagi. Siksaan gejolak napsu itu

terlalu kuat untuk kutahan. Aku harus menyerah lagi

untuk yang kesekian kalinya, padahal aku yakin Parjo

belum apa-apa. Tubuhku terasa ringan sekali. Otot

perutku mengejang dan tubuhku meliuk melepaskan

orgasmeku. Aku terus bergerak menuntaskan orgasmeku lalu

ambruk di sofa. Kubiarkan saja kontol Parjo menancap di

lubang vaginaku. Aku sudah terlalu lelah untuk bergerak.

Aku hanya pasrah saat Parjo menarik tubuhku dan

membaringkannya di karpet ruang meeting room itu.

Tubuhku ditelentangkannya dan kedua kakiku

dipentangkannya lebar-lebar. Aku berusaha menutupi

lubang vaginaku yang menganga dengan tanganku. Aku risih

juga karena bagian tubuhku yang paling pribadi

dipelototi mata Parjo.


Cerita Dewasa – Parjo kembali merangkak di atas perutku dan menindihku.

Kontolnya yang licin karena lendir orgasmeku kembali

ditusukkannya ke lubang vaginaku. Kepala kontolnya agak

mudah tergelincir masuk ke dalam jepitan lubang vaginaku

karena memang sudah sangat licin. Ia terus mendorong

pantatnya hingga seluruh kontolnya amblas ke dalam

vaginaku.


Dengan bertumpu pada kedua lutut dan sikunya, Parjo

mulai mengayunkan pantatnya naik turun di atas tubuhku.

Batang kontolnya dengan sendirinya bergerak keluar masuk

menusuk-nusuk lubang vaginaku. Aku masih belum mampu

bergerak. Kubiarkan saja Parjo sibuk sendiri di atas

tubuh telanjangku.


Bibir Parjo yang terus menerus menciumi bibir lalu leher

dan turun lagi ke payudaraku membuat nafsuku kembali

bangkit. Lidahnya yang terus bermain-main di kedua

puting payudaraku dan tusukan-tusukan kontolnya kembali

memaksaku menggerakkan tubuhku.


“Hmmghh.. Ughh.. Ughh..” mulut Parjo terus saja

mendengus seperti kerbau gila. Ayunan pantatnya semakin

kencang menghantam vaginaku. Ia terus bergerak memacuku.

Berkali-kali mulut rahimku tersodok-sodok ujung

kontolnya. Ngilu bercampur nikmat berbaur menjadi satu.

Keringatnya telah semakin membuat tubuhnya licin. Aroma

keringatnya yang maskulin benar-benar membuatku mabuk

karenanya.


Aku semakin tidak mampu bergerak karena berat badan

Parjo seolah bertumpu pada perutku. Kedua tangannya

berpindah mengganjal kedua buah pantatku dan

mencengkeramnya kuat-kuat. Bibirnya kini melumat bibirku

dan lidahnya menggesek-gesek langit-langit mulutku.

Pantatnya kian cepat memompa menghantam vaginaku. Aku

merasa darahku mulai menggelegak. Perutku kembali

mengejang pertanda akan mencapai klimaksku lagi.


Aku berusaha memutar pantatku yang dicengkeram kedua

tangan Parjo dengan sisa tenagaku. Gerakan pantatku

memutar menyongsong tusukan kontolnya yang menderu-deru.

Vaginaku mulai mengedut-ngedut dan mataku seolah mulai

terbalik menahan nikmat. Aku terus bergerak menyongsong

nikmat. Gerakanku dan gerakan Parjo semakin liar tak

terkendali. Kami sama-sama mendengus dan mengerang.


Tangan Parjo yang meremas kedua buah pantatku terasa

lebih kuat. Pantatnya terus menghunjam selangkanganku.

Tubuhku menggeliat dan tersentak. Pantatku terangkat

saat aku merasa ada suatu ledakan di dalam perutku.


“Arrgghh.. Ter.. Rushh.. Terushh.. Oughh” mulut Parjo

terus memintaku mempercepat putaran pantatku. Aku terus

berusaha bergerak.

“Ohh” aku merintih panjang bersamaan dengan geraman

Parjo.


Mulut Parjo melumat bibirku kencang sekali saat ujung

kontolnya menyemburkan mani ke dalam mulut rahimku.

Crrt.. Crtt.. Crrt.. Crrtt.. Crutt.. Hangat sekali

rasanya saat mulut rahimku tersembur air maninya. Tubuh

Parjo ambruk di atas perutku. Kami sama-sama terkulai

lemah setelah bertempur habis-habisan.


Aku tidak jadi lembur hari itu. Aku berulangkali

disetubuhi Parjo dengan berbagai posisi di ruang meeting

VIP itu hingga loyo. Ruang meeting VIP yang biasa

digunakan menemui tamu-tamu VIP sekarang kami gunakan

untuk saling memiting dan menuntaskan gejolak nafsu liar

kami.


Aku keluar kantor dan pulang ke rumah hampir jam 23.30

malam itu. Perselingkuhanku dengan Parjo kembali

terulang karena ia mengancamku akan menceritakan

affairku dengannya kepada teman-temannya bila aku tidak

mau melayani keinginannya. Hampir dua minggu sekali

Parjo minta jatah dariku baik itu di kantor saat sepi,

di rest room atau di penginapan yang terdekat.


Sejak saat itu aku menjadi kekasih gelap Parjo, office

boy di kantorku. Ia dan aku telah berjanji untuk

merahasiakan hubungan kami dan akan bersikap wajar di

depan orang lain. Ia juga berjanji tidak akan

menggangguku bila aku sedang di rumah atau sedang

bersama suamiku.


No comments:

Post a Comment

Post Bottom Ad

 


Halaman